Warta Sekolah
Menelusuri Jejak Sejarah, Menghidupkan Kembali Harapan.


Di langit-langit dayah, ada doa-doa yang diam-diam dipanjatkan. Ada harapan orang tua yang dititipkan, nasihat guru yang terus diulang, dan mimpi-mimpi santri yang perlahan diperjuangkan. Di tempat inilah masa depan disemai melalui ilmu, doa, dan kesabaran. Setiap hari yang dijalani menjadi bagian dari proses panjang untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas dalam berpikir, tetapi juga berakhlak dalam bertindak. Perjalanan SMP Inshafuddin berawal dari kepedulian terhadap masa depan pendidikan generasi Muslim Aceh. Pada tahun 1973, terbatasnya daya tampung SMP dan SMA di Banda Aceh mendorong sejumlah tokoh PERTI dan para ulama Aceh melalui musyawarah untuk mengusulkan pendirian sekolah. Dengan persetujuan pimpinan PERTI/PB Inshafuddin, Tgk. H. Muhammad Daud Zamzami, SMP Inshafuddin resmi berdiri pada tahun 1974. Berawal dari tempat belajar sederhana, bekas Kantor Keuchik Peulanggahan berukuran 6 × 8 meter, dengan delapan murid dan 16 guru, pendidikan ini terus berkembang. Pada tahun 1976, SMA Inshafuddin menyusul didirikan. Dari kepedulian dan perjuangan para pendahulu inilah tumbuh sebuah lembaga pendidikan yang terus mewariskan harapan bagi generasi berikutnya. Sejarah ini mengajarkan bahwa besarnya sebuah lembaga bukan semata-mata ditentukan oleh luas bangunannya, melainkan oleh besarnya cita-cita yang diperjuangkan dan ketulusan orang-orang yang membangunnya.
Keunikan Inshafuddin terletak pada model pendidikan yang dikembangkan. Pada umumnya, pesantren atau dayah terpadu menggabungkan pendidikan formal berbasis agama, seperti Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, dengan kurikulum pesantren. Sementara itu, Inshafuddin memadukan pendidikan sekolah umum, yaitu SMP dan SMA, dengan kurikulum dayah. Jika di banyak tempat pendidikan formal hadir untuk melengkapi dayah yang telah berdiri lebih dahulu, Inshafuddin berawal dari sekolah yang kemudian diperkaya dengan pendidikan dayah. Dari perjalanan inilah berkembang Dayah Terpadu Inshafuddin, tempat peserta didik tidak hanya belajar sebagai siswa, tetapi juga tumbuh sebagai santri. Pendidikan di SMP Inshafuddin memadukan kurikulum nasional dengan pendidikan dayah salafiyah. Ilmu pengetahuan umum berjalan beriringan dengan pendalaman ilmu agama sebagai bekal untuk menghadapi kehidupan. Dalam kurikulum dayah, para santri mempelajari berbagai bidang keilmuan, di antaranya Tahsinul Qur’an, Tahfidzul Qur’an, Nahwu dan Sharaf sebagai dasar memahami tata bahasa Arab, Tamrin Lughah untuk melatih kemampuan berbahasa Arab, serta Imlak untuk mengembangkan keterampilan menulis bahasa Arab. Selain itu, santri juga mempelajari Aqidah, Akhlak, Fiqih, dan Hadis sebagai fondasi keimanan, pembentukan karakter, pemahaman ibadah, serta pedoman dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Proses pendidikan tersebut didukung oleh tenaga pendidik yang memiliki latar belakang keilmuan yang beragam.
SMP Inshafuddin saat ini dipimpin oleh Ustazah Warnidah, S.Pd.I., sedangkan kepemimpinan Dayah Terpadu Inshafuddin berada di bawah bimbingan Abi Daud Hasbi, seorang ulama karismatik Aceh. Kehadiran kepemimpinan sekolah dan dayah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pendidikan yang memadukan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keislaman, dan pembentukan akhlak. Para guru mata pelajaran umum memiliki kualifikasi sarjana yang linear dengan bidang pelajaran yang diampu, dan enam orang di antaranya telah menyelesaikan pendidikan magister. Sementara itu, pelajaran dayah dibimbing oleh para guru yang berasal dari latar belakang pendidikan pesantren salafiyah maupun modern, termasuk lulusan Dayah MUDI Mesra, Dayah Darussalam Labuhan Haji, serta dayah-dayah lainnya. Perpaduan latar belakang pendidikan dan pengalaman keilmuan para pendidik ini menjadi salah satu unsur penting dalam mendukung proses pembelajaran yang menyeluruh. Semua itu sejalan dengan visi SMP Inshafuddin yaitu untuk melahirkan insan berakhlak mulia, menguasai Al-Qur’an, kitab kuning dan bahasa asing, serta memiliki daya saing global.

Harapannya, santri mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan iman, adab, dan jati diri keislamannya. Sebab, pendidikan sejatinya bukan hanya tentang seberapa banyak ilmu yang diperoleh, melainkan juga tentang bagaimana ilmu itu membimbing seseorang menjadi pribadi yang lebih baik dan bermanfaat bagi sesama. Mungkin hari ini, hari-hari di dayah terasa seperti rutinitas biasa. Bangun pagi, belajar, mengaji, mendengarkan nasihat, dan menaati aturan. Ada hari-hari yang melelahkan, ada kerinduan kepada keluarga, dan ada keinginan untuk merasakan kehidupan di luar lingkungan dayah. Namun, waktu sering kali mengajarkan bahwa hal-hal yang dahulu terasa biasa justru menjadi kenangan yang paling berharga. Kelak, ketika para santri melangkah ke dunia yang lebih luas, mungkin mereka akan merindukan suasana belajar bersama, lantunan ayat suci yang mengiringi hari-hari mereka, nasihat guru yang dahulu terdengar berulang, serta kebersamaan sederhana yang pernah mengisi kehidupan di dayah. Pada saat itulah, mereka mungkin memahami bahwa di balik setiap aturan terdapat pendidikan, di balik ketegasan terdapat kepedulian, dan di balik setiap nasihat tersimpan harapan agar mereka tumbuh menjadi manusia yang lebih baik. Menjadi santri bukan hanya tentang tinggal di lingkungan dayah atau mempelajari kitab-kitab keislaman. Menjadi santri berarti menjalani proses pembentukan diri: belajar menghormati orang lain, melatih kesabaran, menjaga lisan dan perilaku, serta membiasakan diri menempatkan adab sebelum merasa memiliki ilmu. Proses itu mungkin tidak selalu mudah, tetapi melalui perjalanan itulah karakter dibentuk.
Hari Santri Nasional menjadi momentum untuk kembali merenungkan makna perjuangan tersebut. Peringatan ini bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa santri memiliki tanggung jawab besar dalam melanjutkan perjuangan para pendahulu. Jika dahulu para pendiri berjuang menghadirkan akses pendidikan di tengah keterbatasan, maka generasi santri hari ini memiliki tugas untuk menjaga, mengembangkan, dan mengisi pendidikan itu dengan kesungguhan belajar, prestasi, serta pengabdian. Bagi keluarga besar Inshafuddin, mengenang sejarah bukan berarti berhenti pada kebanggaan terhadap masa lalu. Sejarah justru harus menjadi sumber kekuatan untuk melangkah ke depan. Perjuangan para pendahulu hendaknya tidak hanya dikenang melalui nama dan cerita, tetapi diteruskan melalui ketulusan mengajar, kesungguhan belajar, penjagaan akhlak, serta kontribusi nyata bagi masyarakat. Setiap generasi memiliki zamannya sendiri, begitu pula tantangannya. Ilmu pengetahuan dan teknologi akan terus berkembang, wawasan harus semakin luas, dan keterampilan perlu terus diasah. Namun, iman, adab, dan jati diri keislaman harus tetap menjadi fondasi. Sebab, kemajuan tanpa akhlak dapat kehilangan arah, sementara ilmu yang disertai adab akan menjadi bekal untuk menghadirkan manfaat bagi umat dan bangsa.
Pada akhirnya, masa depan Inshafuddin tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang berdiri atau banyaknya generasi yang telah menempuh pendidikan di dalamnya. Masa depan itu juga ditentukan oleh karakter para santri yang kelak membawa nama lembaga ke tengah masyarakat. Mereka adalah penerus sejarah, penjaga nilai, sekaligus pembawa harapan. Dari ruang-ruang belajar sederhana hingga tantangan dunia global, ada amanah yang harus terus dilanjutkan. Semoga SMP Inshafuddin senantiasa menjadi tempat tumbuhnya generasi yang luas ilmunya, luhur akhlaknya, kuat imannya, serta siap menghadapi perkembangan zaman tanpa kehilangan jati dirinya. Sebab, sejarah bukan hanya tentang siapa yang telah mendirikan, melainkan juga tentang siapa yang bersedia meneruskan. Perjuangan para pendahulu telah membuka jalan; kini, generasi santrilah yang menentukan sejauh mana harapan itu akan dibawa.
Dari perjuangan para pendahulu, lahir tempat untuk menanam harapan. Dari doa-doa di dayah, tumbuh generasi yang kelak membawa cahaya bagi masa depan.
Selamat Hari Santri Nasional 22 Oktober 2026

