Warta Sekolah
SMP Inshafuddin Banda Aceh Gelar Saweu Sejarah Melalui Eksplorasi Sejarah Lokal Dalam Ruang Dan Waktu


Banda Aceh, Rabu, 23 September 2026 — SMP Inshafuddin Banda Aceh melaksanakan kegiatan outing class bertajuk Saweu Sejarah bagi peserta didik kelas IX di Gampong Lampulo, Kota Banda Aceh. Kegiatan ini dipelopori oleh Salsabila Dahniar, S.Pd., selaku Waka Kurikulum bersama Cut Nyak Meutia Maulida, S.Pd., selaku guru IPS Terpadu SMP Inshafuddin Banda Aceh. Saweu Sejarah menjadi upaya menghadirkan pengalaman belajar secara langsung melalui penelusuran sejarah lokal dan pengamatan terhadap peninggalan sejarah di lingkungan masyarakat. Kegiatan ini mengusung tema “Integrasi Keilmuan Melalui Eksplorasi Sejarah Lokal dalam Ruang dan Waktu” sebagai landasan pembelajaran yang mengajak peserta didik mengenali jejak sejarah di lingkungan sekitar serta memahami keterkaitan antara peristiwa masa lalu, kondisi masa kini, dan kehidupan masyarakat pada masa mendatang.
Pemilihan Gampong Lampulo sebagai lokasi kegiatan didasarkan pada keberadaan sejumlah tempat bersejarah yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar kontekstual. Sebanyak 41 peserta didik kelas IX mengikuti kegiatan dengan mengunjungi tiga lokasi utama, yaitu Pelabuhan Lampulo, makam kuno di kawasan permukiman warga, serta Boat di Atas Rumah. Ketiga lokasi tersebut menghadirkan sudut pandang yang berbeda dalam memahami perjalanan sejarah masyarakat Aceh. Melalui pengamatan langsung, peserta didik memperoleh kesempatan untuk menelaah hubungan antara kondisi geografis, aktivitas masyarakat, dan berbagai peristiwa yang membentuk identitas suatu wilayah. Penelusuran dimulai dari Pelabuhan Lampulo untuk mengenali peran kawasan pesisir dalam kehidupan masyarakat.

Pelabuhan Lampulo menjadi ruang pembelajaran untuk memahami peran wilayah pesisir, terutama dalam aktivitas pelayaran dan perdagangan. Letaknya yang berdekatan dengan Krueng Aceh serta akses menuju laut memberikan gambaran mengenai pentingnya kondisi geografis bagi perkembangan kegiatan ekonomi dan hubungan antardaerah. Pengamatan tersebut membantu peserta didik memahami bahwa karakteristik suatu ruang turut memengaruhi aktivitas dan perjalanan kehidupan masyarakat dari masa ke masa. Pemahaman mengenai hubungan antara ruang dan kehidupan masyarakat kemudian diperdalam melalui kunjungan ke makam kuno yang berada di kawasan permukiman warga. Di lokasi ini, peserta didik mengamati bentuk nisan, tulisan, kaligrafi Arab, serta ragam motif ukiran yang terdapat pada peninggalan makam. Makam kuno menjadi bahan pengamatan untuk mengenali nilai sejarah dan kebudayaan masyarakat pada masa lampau, peserta didik diarahkan untuk memahami bahwa peninggalan sejarah perlu dikaji berdasarkan ciri-ciri yang dapat diamati dan didukung oleh informasi yang relevan agar penafsirannya tidak hanya bertumpu pada bentuk fisik. Pengamatan terhadap makam juga membuka ruang untuk mempelajari asal-usul nama Gampong Lampulo melalui informasi sejarah dan cerita lisan yang berkembang di masyarakat. Kajian toponimi tersebut memperlihatkan bahwa nama suatu wilayah dapat menyimpan jejak pengalaman, kondisi lingkungan, serta ingatan kolektif masyarakat. Beragam penuturan mengenai asal-usul nama Lampulo menjadi bahan bagi peserta didik untuk membandingkan informasi, menelaah perbedaan keterangan, dan memahami pentingnya sumber sejarah dalam menelusuri masa lalu suatu tempat.
Penelusuran sejarah berlanjut ke lokasi terakhir, yaitu Boat di Atas Rumah, salah satu peninggalan yang mengingatkan masyarakat pada dahsyatnya tsunami Aceh pada 26 Desember 2004. Keberadaan perahu yang terseret hingga ke kawasan permukiman menjadi bukti nyata besarnya dampak bencana tersebut terhadap kehidupan masyarakat. Pengamatan di lokasi ini memberikan pemahaman bahwa peristiwa sejarah tidak hanya menjadi bagian dari masa lalu, tetapi juga menyimpan pelajaran penting bagi kehidupan masa kini. Pengalaman tersebut mengajak peserta didik untuk menyadari pentingnya kesiapsiagaan, kepedulian terhadap lingkungan, serta upaya mengurangi risiko bencana pada masa mendatang. Rangkaian kunjungan ke ketiga lokasi tersebut memperkuat pemahaman peserta didik terhadap materi IPS Terpadu, khususnya konsep dasar ilmu sejarah, keterkaitan masa lalu, masa kini, dan masa depan, serta sejarah lokal dan toponimi wilayah. Pengalaman mengamati tempat dan peninggalan sejarah secara langsung memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengaitkan informasi yang dipelajari dengan kondisi nyata di lapangan. Proses pembelajaran ini juga mendorong mereka mengajukan pertanyaan, membandingkan informasi, dan menyusun kesimpulan berdasarkan hasil pengamatan. Pengalaman tersebut menjadi semakin bermakna melalui keterlibatan sejumlah mata pelajaran yang memperluas sudut pandang peserta didik dalam memahami lingkungan sekitar. Integrasi antarmata pelajaran terlihat dalam berbagai aktivitas selama Saweu Sejarah. Pada mata pelajaran IPA, peserta didik mengamati keterkaitan konsep tekanan zat dengan fenomena di lingkungan sekitar. Bahasa Indonesia mendukung keterampilan mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara, mengolahnya menjadi laporan sejarah lokal, serta mempresentasikan hasilnya. Penerapan Matematika dilakukan melalui pengukuran jarak dan waktu serta penyajian data dalam bentuk tabel atau diagram. Pembelajaran Sharaf memperkenalkan kosakata bahasa Arab yang berkaitan dengan sejarah dan lingkungan beserta wazannya. Aktivitas berjalan kaki juga menjadi bagian dari penerapan PJOK melalui pembiasaan aktivitas fisik, kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Seluruh aktivitas tersebut dirancang agar peserta didik memperoleh pengalaman belajar yang saling melengkapi sesuai dengan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran.
Pelaksanaan kegiatan didukung oleh penggunaan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai panduan dalam melakukan pengamatan dan mengumpulkan informasi di setiap lokasi. Melalui kerja kelompok, peserta didik mendiskusikan temuan, mencatat informasi penting, serta menyusun hasil pengamatan sesuai dengan tugas yang diberikan. LKPD membantu proses pembelajaran berjalan lebih terarah karena peserta didik tidak hanya mengamati objek sejarah, tetapi juga dilatih mengolah informasi dan menyampaikan hasil pemikirannya. Aktivitas tersebut turut mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, dan bekerja sama selama proses pembelajaran berlangsung. Pengalaman belajar melalui Saweu Sejarah menegaskan bahwa pembelajaran tidak terbatas pada ruang kelas. Penelusuran sejarah di Gampong Lampulo memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengenali warisan sejarah di lingkungan masyarakat sekaligus memahami nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. Kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan rasa ingin tahu, memperkuat pemahaman terhadap sejarah lokal, serta mendorong kepedulian generasi muda dalam menjaga peninggalan sejarah sebagai bagian dari identitas dan ingatan kolektif masyarakat Aceh.

